Kamis, 05 April 2012

PENDEKATAN HUBUNGAN INTERTEKSTUALITAS DALAM PUISI

PENDEKATAN HUBUNGAN INTERTEKSTUALITAS DALAM PUISI

A.  PENDAHULUAN
Sitok srengenge mensinyalir hubungan antar pengarang sebagai bias antara fotografi dan fotokopi (Jawa Pos Minggu 2 Mei 1993). Dari gagasan Sitok Srengenge ini, dikritisnya bahwa ketika seorang pengarang menulis sebuah karya, kritikus biasanya mempertanyakan karyanya sebagai plagiat siapa, epigon siapa, atau paling tidak menguapkan bau siapa. Dia sindirkan bahkan, sapardi Joko Damono dan abdul hadi W.M., sebelum besar pernah membuat karya sebagai fotokopi. Paradigma Sitok Srengenge tersebut menggambarkan, bagimana kecenderungan perkembangan sastra dalam dimensi intertekstualitasnya. Hubungan intertekstialitas dalam karya sastra, didasarkan pada sistem tanda dalam karya sastra yang khusus disebut Preminger dkk. sebagai konvensi tambahan, disamping konvensi bahasa yang menjadi mediumnya (Rahmad Djoko Pradopo, 1995: 166).
Karya sastra mempunyai hubungan sejarah antara karya sezamannya, yang mendahului atau yang kemudian. Hubungan demikian dapat mencakup persamaan maupun pertentangannya. Untuk mendalami hubungan antar teks demikian, penting dibicarkan karya sastra karya sastra tersebut dalam kaitannya dengan karya sezaman, sebelum, dan sesudahnya. Hal ini untuk mengetahui bagaimana hubungan atau kaitan antar teks yang mungkin terjadi. Dalam konteks inilah muncul metode kritik intertekstualitas, yakni metode penelitian sastra dengan jalan membandingkan, mensejajarkan, dan mengkontraskan sebuah teks transformasi dengan hipogramnya ( Rahmat Djoko Pradopo, 1993: 132-135).
Riffaterre dalam bukunya Semiotic of Poetry (1978) dalam Rahmat Djoko Pradopo (1993: 167), mengemukakan bahwa hakikat sebuah sajak baru bermakna ketika sajak itu berkaitan dengan sajak yang lain. Hubungan yang terjadi, bisa positif (persamaan) maupun negative (bertentangan). Sebuah sajak karena itu dapat menjadi latarbelakang munculnya sajak yang lain, yang sering disebut dengan hipogram. Istilah intertekstualitas seringkali juga disebut dengan transformasi kesusasteraan ( A. Teeuw, 1994: 142). Begitulah A. Teeuw menyebutnya untuk ‘menandai’ karya sastra saduran. Maka sesungguhnya, pemahaman demikian _makna hubungan intertekstualitasnya—akan mengantarkan pembaca untuk lebih intensif dalam memahami karya sastra.
B.  PEMBAHASAN
1.    ANALISIS STRUKTUR KEPUITISAN
Ada kriteria dalam menganalisis struktur kepuitisan yaitu:
a)   Pilihan Kata
Kata-kata di dalam sajak adalah kata-kata yang sama sekali berbeda dengan teks dalam bentuk yang lain. Kata-kata dalam sajak memiliki peran sangat esensial karena ia tidak saja harus mampu menyampaikan gagasan, tetapi juga dituntut untuk mampu menggambarkan imaji sang penyair dan memberikan impresi ke dalam diri pembacanya, karena itu kata-kata dalam puisi lebih mengutamakan intuisi, imajinasi, dan sintesis. Pilihan kata yang tedadap dalam puisi “Penerimaan” karya Chairil Anwar:

KUSANGKA (Amir Hamzah)

Kusangka cemburu kembang setangkai
Rupanya melur telah diseri …
Hatiku remuk mengenangkan ini
Wasangka dan was-was silih berganti.

Kuharap cempaka baharu kembang
Belum tahu sinar matahari….
Rupanya teratai patah kelopak
Dihinggapi kumbang berpuluh kali.

Kupohonkan cempaka
Harum mula terserak…
Melati yang ada
Pandai tergeletak…..

Mimpiku seroja terapung di paya
Teratai putih awan angkasa …
Rupanya mawar mengandung Lumpur
Kaca piring bunga renungan …

Igauanku subuh, impiaku malam
Kuntum cempaka putih bersih …
Kulihat kumbang keliling berlagu
Kelopakmu terbuka menerima cumbu.

Kusangka hari bertudung lingkup
Bulu mata menyangga panah asmara
Rupanya merpati jangan dipetik
Kalau dipetik menguku segera.

PENERIMAAN (Chairil anwar)

Kalau kau mau keterima kau kembali
Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani
Kalau kau mau keterima kau kembali
Untuku sendiri tapi

Sedangkan dengan cermin aku enggan berbagi
(Deru Campur debu, 1959:36)

Pilihan kata yng digunakan seorang Chairil Anwar sangat indah, karena kata-kata yang digunakan menggunakan kata-kata yang mudah dipahami misalnya dalam sajak yang berjudul “Penerimaan”. Selain itu penyusunan kata-katanya sangat tepat dan pemilihan untuk pembentukan sebuah sajak memperhatikan kesesuaiaan kata yang digunakan serta penyusunan antar kata sangat indah.
b)   Bahasa Kiasan
Bahasa kiasan merupakan alat yang dipergunakan penyair untuk mencpai spek kepuitisan atau sebuah kata yang mempunyai arti secara konotatif tidak secara sebenarnya. Dalam penulisan sebuah sajak bahasa kiasan ini digunakan untuk memperindah tampilan atau bentuk muka dari sebuah sajak. Basasa kiasan dipergunakan untukmemperindah sajak-sajak yang ditulis seorang penyair. Bahasa sajak yang tedapat dalampuisi “Penerimaan” karya Chairil Anwar adalah sebagai berikut:
(1)   Repetisi
Repetisi adalah pengulangan bunyi, suku kata, kata, atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai. Dalam sajak terdapat dalam:
Kalau kau mau ku terima kau kembali...
Kalau kau mau kuterima kembali...
(2)   Simile atau Persamaan
Simile atau Persamaan adalahperbandingan yang bersifat eksplisit, yaitu langsung menyatakan sesuatu sama dengan hal lain, seperti terdapat dalam /Bak kembang sari sudah terbagi...//.
(3)   Pesonifikasi
Personifikasi adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda mati seolah-olah hidup. Dalam sajak terdapa pada; /Sedang dengan cermin aku enggan berbagi//.
c)    Citraan
Citraan adalah satuan ungkapan yang dapat menimbulkan hadirnya kesan keindrawian atau kesan mental tertentu. Unsur citraan dalam sebuah puisi merupakan unsur yang sangat penting dalam mengembangkan keutuhan puisi, sebab melaluinya kita menemukan atau dihadapkan pada sesuatu yang tampak konkret yang dapat membantu kita dalam menginterpretasikan dan menghayati sebuah puisi secara menyeluruh dan tuntas.
Citraan dalam puisi terdapat 7 jenis citraan, yaitu citraan penglihatan, citraan pendengaran, citraan gerak, citraan perabaan, citraan penciuman, citraan pencecapan, dan citraan suhu. Penggunaan citraan dalam puisi melibatkan hampir semua anggota tubuh kita, baik alat indra maupun anggota tubuh, seperti kepala, tangan, dan kaki. Untuk dapat menemukan sumber citraan yang terdapat dalam puisi, pembaca harus memahami puisi dengan melibatkan alat indra dan anggota tubuh untuk dapat menemukan kata-kata yang berkaitan dengan citraan.
Dalam sajak “Penerimaan” citraan yang digunakan misalnya yaitu citraan penglihatan tedapat dalam /aku masih tetap sendiri, sedangkan dengan cermin aku enggan berbagi//. Cermin dapat dilihat dengan indera mata sehingga menggunakan citraan penglihatan.
d)   Sarana Retorika
Sarana retorik pada dasarnya merupakantipu muslihat piiran yang mempergunakan susunan bahasa yang khas sehingga pendengar erasa dituntut untuk berpikir. Dalam menyampaikan sebuah ide atau gagasan Chairil Anwar cenderung pada aliran realisme dan ekspresionis.
2.    Hubungan Intertekstual “Penerimaan” dengan “Kusangka”
Untuk mendapat makna penuh sebuah sajak, tidak boleh melupakan hubungan sejarahnya, bik dengan keseluruhan sajak-sajak peyair sendiri, sajak-sajak sesamanya, maupun dengan sajak sastra zaman sebelumnya( Teeuw, 1983: 65).
Sajak Chairil Anwar merupakan penyimpangan terhadap konsep estetik Amir Hamzah yang masih meneruskan konsep estetik sastra lama. Pandangan romantik Amir Hamzah ditentang dengan pendangan realistiknya. Sajak “Kusangaka” menunjukkan kesejajaran gagasan yang digambarkan dalam enam sajak tersebut. Amir Hamzah menggunakan ekspresi romantik secara metaforis-alegoris, membandingkan gadis dengan bunga. Pada bait terakhir dimetaforkan sebagai bidadari (hauri) dan merpati.
Dari keenam bait tersebut disimpulkan bahwa si aku mencintai gadis yang disangka murni, tetapi ternyata sesungguhnya sudah tidak murni lagi. Sudah dijamah oleh pemuda lain/ suda tidak perawan lagi (‘Rupanya teratai patah kelopak/Dihinggapi kumbang berpuluh kali’. Kulihat kumbang keliling berlagu/kelopakmu terbuka menerima cembu’). Hal itu menimbulkan kekeewaan dan menyebabkan hati si aku remuk. Wasangka dan was-was silih berganti(bait 1). Dengan demikian, si aku tidak mau bersama gadis yang sudahtidak murni lagi, sebab akan terkena kuku “merpati” itu (bait 7).
Gadis yang masih murni (disangka murni) diumpamakan cempaka kembang(bait 1), baharu kembang belum terkena sinar matahari(bait 2), cempaka harum(bait 3), seroja terapung di paya putih seperti awan(bait 4), dan seperti bidadari (hauri) bertudung lingkup yang bulu matanya menambah panah asmara (bait 6).
Gambaran tersebut bertentangan dengan kenyataan yang sebenarnya yang sangat menyakitkan basi si aku dan sangat kecewa setelah mengetahui kisah yang sebenarnya. Gambaran gadis tersebut sudah tidak murni lagi diumpamakan melur telah diseri(bait 1), teratai patah kelopak dihinggapi kumbang berpuluh kali (bait 2), merpati yang pandai bergelak(bait 3), mawar yang mengandung lumpur(bait 4), dan merpati yang mengaku segera (bait 6).
Jadi, yang menanggapi masalah tersebut si aku merasa kecewa karena pikiran romantik bahwa gadis yang dicintainya itu harus masih murni dan tetap murni, setia pada si aku, tidak boleh menerima cinta orang lain, namun kenyataan berlainan. Tidak sesuai dengan keinginan si aku. Sikap romantik digambarkan dengan bahasa yang indah, mengambil objek dari alam sebagai perumpamaan, sehingga seperti natural.
Sebaliknya Chairil Anwar, dalam sajaknya itu menampilkan tampak yang lain dalam mendiskripsikan atau menanggapi gadis yang sudah tidak murni lagi. Sangat berlawanan dengan apa yang ditampilkan oleh Amir Hamzah. Ia berpandangan realistik, si aku mau menerima kembali wanita(kekasihnya, istrinya) yang barang kali telah berselingkuh dengan laki-laki lain. Si aku mau menerima kembali asal mau kembali kepada si aku tanpa da rasa curiga. Si aku masih sendiri, tidak mencari wanita lain sebagai pasangan hidupnya karena masih menunggu kembalinya wanita yang dicintainya itu.
Si aku mengetahui bahwa gadis yang dicintainya sudah tidak murni lag, sudah seperti bunga yang sarinya terbagi, yaitu sudah dihinggapi kumbang lain. Wanita itu jika ingin mau diterima kembali harus berani bertemu dengan si aku dan jangan malu untuk menemui si aku. Digambarkan “Djangan tunduk! Tantang aku dengan berani”. Si aku pun tetap menerima dengan sepenuh hati walaupun wanita itu sudah tidak perawan lagi.
Chairil Anwar membandingkan wanita dengan bunga (kembang). Wanita yang sudah tidak murni digambarkan sebagai bunga yang sarinya sudah terbagi (bak kembang sari yang sudah terbagi). Ini hampir sama dengn perumpamaan yang dilakukan Amir Hamzah: “Rupanya teratai patah kelopak/dihinggapi kumbang berpuluh kali dan kulihat kumbang keliling berlaga”. Sedangkan Chairil Anwar :”Kutau kau bukan yang dulu lagi/ bak kembang sari sudah terbagi”. Namun, Chairil Anwar tetap menggunakan bahasa keseharian dalam pengungkapan dan menggunakan gaya eksresif yang padat.
3.    ANALISIS SEMIOTIK
Studi sastra bersifat semiotik adalah usaha untuk menganalisis sastra sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai arti. Dengan melihat variasi-variasi didalam struktur dalam atau hubungan dalamnya, akan dihasilkan bermacam-macam arti. Analisis semiotik itu tidak dapat dipisahkan dari analisis struktural, dan sebaliknya. Tugas semiotik puisi adalah membuat eksplisit asumsi-asumsi implisit yang menguasai produksi arti dalam puisi.
Dalam sajak”Penerimaan” karya Chairil Anwar merupakan ungkapan perasaan yang dirasakan oleh penyair. Puisi itu dapat dianalisis sebagai berikut: si aku memberi harapan kepada gadis si aku bila ingin kembali boleh saja. Si aku menerima sepenuh hati bila gadis itu mau kembali lagi pada kehidupan si aku. Si aku tidak mencari gadis lain sebagai pendamping hidupnya karena masih menunggu kepulangan kekasihnya.
Si aku masih sendiri tidak akan mencari yang lain dan tetap menunggu walaupun sudah mengetahui bahwa gadis yang dicintainya sudah tidak perawan lagi atau sudah selingkuh dengan laki-laki lain. Itu digambarkan dengan kalimat” Kutahu kau bukan yang dulu lagi bak kembang sari sudah terbagi”. ini menggunakan metafora-metafora yang sangat indah dangan menggambarkan perempuan yang tidak perawan dengan kembang sari sudah terbagi.
Si aku memberi harapan kepada gadis si aku bila ingin kembali tidak usah malu dan harus mau menemui si aku. Tidak usah takut untuk menemui si aku. Si aku pun tetap menerima apapun yang sudah terjadi dan menerima dengan mutak: jangan mendua lagi, bahkan bercermin pun si aku enggan berbagi. Digambarkan dalam bait ke-5 yan berbunyi “Sedangkan dengan cermin aku enggan berbagi”. Dalam kalimat ini menggunakan citraan penglihatan.
C.  KESIMPULAN
Sajak “Penerimaan” karya Chairil Anwar mempunyai kesamaan dengan sajak “Kusangka” karya Amir Hamzah, namun ada juga perbedaan-perbedaan dalam mengekspresikannnya. Perbedaan itu terdapat dalam mengapresiasikan seorang perempuan yang terdapat dalam sajak itu.
Puisi Chairil anwar biasanya bercerita keadaan yang muram, sedih, pilu, namun ada juga sajak yang berisi perasaan si aku dalam keadaan yang gembira, bahagia, dan senang. Dalam puisi Chairil anwar yang bertema percintaan, tokoh si aku merasa senang maupun sedih. Kesamaan itu dapat dilihat dari penggunaan kata atau pilihan kata yang terdapat dalam sajak.
Jika dianalisis antar teks di atas, maka dapatlah dikemukakan beberapa hal sebagai berikut. Bahwa keenam bait sajak “Kusangka” menunjukkan kesejajaran gagasan dan tema antara keduanya. Selanjutnya dalam penggunaan bahasa, keduanya berbeda namun sama intensitas dan hakikatnya. CA membandingkan wanita dengan bunga (kembang). Wanita yang sudah tidak murni itu diumpamakan sebagai bunga yang sarinya sudah terbagi (bak kembang sari sudah terbagi). Jadi, ini dekat dengan perumpamaan yang dipergunakan oleh AH: Rupanya tertai patah kelopak/ dihinggapi kumbang berpuluh kali dan kulihat kumbang keliling berlaga/ kelopakmu terbuka menerima cumbu. CA: “kutahu kau bukan yang dulu lagi/ bak kumbang sari sudah terbagi”. Begitulah sehingga secara intensif intertekstualitas kedua puisi itu masih dapat didiskusikan.



























DAFTAR PUSTAKA
Anwar,Chairil. Deru Campur Debu. Jakarta : Dian Rakyat, 2006.
Pradopo, Rahmat Djoko. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005.
Pradopo,Rachmat Djoko. Pengkajian Puisi. Yogyakarta : Gajah Mada University Press, 2009.
Sayuti. Suminto A. Perkenalan dengan Puisi. Yogyakarta:Gama Media, 2002.
Wachid BS, Abdul. Analisis Struktural Semiotik. Yogyakarta : C

1 komentar: